Jurnal Pendidikan Islam ::
Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436189
Perbandingan Pendidikan
Islam Perspektif Mahmud Yunus dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi
Juwariyah
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan
UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta
e-mail: juwariyah@uin-suka.ac.id
Penyunting : Miftahurrohmah
DOI :
10.14421/jpi.2015.189-207
Diterima: 23 Maret 2015 Direvisi: 25 April 2015 Disetujui: 28 Mei
2015
Abstract
The
aim of the study on the thought of Mahmud Yunus and Muhammad Atiyah al-
Abrasyi
about the definition and components of Islamic Education is meant to know
in
detail and to identify their ideas about the definition and scope of Islamic
education.
Given
that education is an activity that is required to be able to keep up with the
times
from
the various changes and to be able to answer the challenges of the times in the
future,
so that the definition and education components should always be reviewed to
keep
up with the demands of time. Therefore, this research is expected to give a
significant
contribution
to the effort in promoting Islamic education, especially in Indonesia and
generally
in Islamic world.
Keywords:Islamic
Education, Mahmud Yunus, Athiyah al-Abrasyi.
Abstrak
Tujuan dari
kajian terhadap pandangan Mahmud Yunus dan Muhammad ’Atiyahal-Abrasyi tentang
pengertian dan komponen[dihapus tanda pisah dan
kata komponen dihilangkan satu]Pendidikan
Islamdimaksudkan untuk mengetahui secara rinci serta mengidentifikasi
190Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam Perspektif Mahmud Yunus
dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi
pemikiran[dihapus tanda pisah dan kata
pemikiran dihilangkan satu]keduanya tentang pengertian dan cakupan
pendidikan Islam.[kata Mengingat bahwa dihapus]pendidikan merupakan
aktifitas [kata yang dituntut dihapus]untuk dapat mengikuti perkembangan
[zaman
dari berbagai dihapus]perubahan yang terjadi serta mampu menjawab tantangan[tanda pisah dihapus dan kata
tantangan dihilangkan satu][kata zaman dihapus]di masa depan[tanda koma di hapus] maka tentunya pengertian serta
komponen[dihapus tanda pisah dan kata komponen dihilangkan satu]pendidikan [kata pun dihapus]perlu senantiasa ditinjau
ulang untuk disesuaikan dengan tuntutan zamannya.[Oleh karena itu dihapus]penelitian ini diharapkandapat memberikan [kontribusi yang berarti dihapus]terhadap upaya
memajukan pendidikanIslam khususnya di tanah air dan umumnya di dunia Islam.
Kata Kunci: Pendidikan
Islam, Mahmud Yunus, Athiyah al-Abrasyi
Pendahuluan
Problematika Pendidikan Islam [diganti kata seperti]halnya pendidikan lainnya merupakan
persoalan besar yang senantiasa berada dalam proses dan tidak akan pernah
mencapai titik akhir. Oleh karena itu debat akademik mengenai pendidikan Islam
tidak [dihapus akan]pernah selesai dan tidak mungkin dielakkan.[1]
Perkembangan pendidikan
Islam sejak masa Nabi sampai masa kejayaannya
pada abad ke IV H. dapat
diketahui melalui kitab-kitab sejarah Islam, sejarah kebudayaan Islam maupun
melalui pemikiran dan pembaruan dalam Islam. Namun kegiatan penulisan sejarah
perkembangan pendidikan Islam secara keseluruhan sejak zaman Rasulullah sampai sekarang
baru dimulai pada abad ke XX, [diganti kata seperti] yang dilakukan oleh
Muhammad ’Athiyah al-Abrasyi dan Mahmud Yunus. Keduanya menghimpun kembali setiap
pemikiran yang berkaitan dengan perkembangan pendidikan Islam yang pernah
ditulis oleh para pemikir dan pendidik seperti Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu
Khaldun, dan lain-lain.[2]
Dalam perkembangan sejarahnya umat Islam telah mengalami dan
melaluibeberapa periode yang dapat dirinci sebagai beikut: - Periode lasik (650
- 1250).-Masa kemajuan I (650-1000). - Masa disintegrasi (1000 - 1250). –
Periodepertengahan (1250 - 1500).
Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam
Perspektif Mahmud Yunus dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi 191
- Masa kemunduran I (1250 -
1500). - Masa tigakerajaan besar (1500 -1800). Fase kemajuan II (1500 - 1700).
- Fase kemunduranII (1700 - 1800). Periode modern (1800).[3]
Jika ditinjau dari segi administrasi dan organisasi serta sistem
pendidikanmodern, maka pada masa kemunduran itu pendidikan Islam mengalami
kemunduranpula. Hal itu dapat dilihat pada sistem pendidikan tradisional di
madrasah danpondok[kata pondok dihapus satu]pesantren di mana pelajaran
yang diberikan kepada siswa sangatterbatas kepada pelajaran agama dan sejarah
para Nabi dengan organisasi danadministrasi yang sangat sederhana. Hal itu
terjadi dikarenakan perhatian umatIslam ketika itu lebih tercurah kepada
perjuangan politik untuk membebaskan diri dari [katacengkeraman dihapus]penjajah, di samping
perjuangan untuk memperbaiki danmeningkatkan kondisi ekonomi.[4]
[kata Baru dihapus]pada permulaan abad XX munculah di dunia Islam
tokoh-tokohpembaharu di bidang pendidikan, di antaranya:Ahmad Dahlan, Naquib
Al-Atas,Mahmd Yunus, dan Muhammad ’Athiyah Al-Abrasyi.
Tulisan ini akan membahas komponen-komponen pendidikan Islam
dalampandangan Mahmud Yunus dan Muhammad ’Athiyah Al-Abrasyi untuk melihattitik-titik persamaan dan perbedaan antara ide-ide keduanya serta relevansinyadengan
pendidikan Nasional.
Sebelum masuk kepada pembahasan terhadap ide[dihapus satu] keduanya tentangkomponen[dihapus satu]pendidikan Islam, terlebih
dahulu akan dikaji sekilas tentangriwayat hidup keduanya.
Mahmud Yunus:
Dilahirkan di desa Sungayang Batusangkar, Sumatra Barat pada hari
Rabu30 Ramadhan 1316H./ 10 Pebruari 1899 M. dan meninggal pada 16 Januari
1982.Ia dikenal sebagai seorang yang memiliki otak yang cerdas dan kemauan
keras sertatekun dan ulet. Pendidikan dasarnya dia tempuh di desanya pada tahun
1906 -1909, kemudian tahun 1910 - 1916 ia belajar di Pesantern. Ia memulai
karirnyasebagai guru madrasah di kampungnya pada tahun 1917 -1923, Pada tahun
1924- 1930 ia meneruskan studi ke Mesir (Kairo), tahun 1931- 1946 mengajar
diIndonesia, dan berakhir dengan menjabat sebagai Rektor pada IAIN Imam
BonjolPadang pada tahun 1957 - 1971. Semangat pembaruannya terutama di bidang
192 Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam
Perspektif Mahmud Yunus dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi
pendidikan Islam ia peroleh
dari gurunya Syaikh Muhammad Thaib Umar tokohgerakan modern Islam di
Minangkabau, di samping juga dari tokoh-tokoh pembaruyang dijumpainya selama
belajar di Mesir. Sekembalinya dari Mesir ia menjadipegawai pada Departemen
Agama, sehingga dia mempunyai peluang untukbekerjasama dengan berbagai pihak di
dalam mewujudkan cita-citanya melakukanpembaruan di bidang pendidikan Islam.
Maka didirikanlah sekolah formal Islam,dan di situ pulalah dicetak calon-calon
guru profesional yang nantinya diharapkandapat menjadi penerus bagi
perjuangannya dalam melakukan pembaruan di bidangpendidikan Islam sampai hari
ini.
Karya tulisnya yang berkaitan dengan pendidikan di antaranya: Pokok-PokokPendidikan dan Pengajaran, Pengembangan Pendidikan
Islam di Indonesia, MetodikKhusus Pendidkan Agama, Sejarah Pendidikan Islam,
dan Sejarah Pendidikan Islamdi Indonesia.
Muhammad ’Athiyah Al-Abrasyi:
Ia adalah pakar pendidikan yang memiliki jabatan terakhir sebagai
guru besardi Dar al-Ulum dan Kairo University. Berbagai tulisan tentang
pendidikan telahdihasilkannya. Diantaranya At-Tarbiyah
al-Islamiyah wa Falsafatuha,Al-Ittijaahaatal-Hadiitsah
fi at-Tarbiyah, Ruuh al-Islam, Ruuh at-Tarbiyah wa at-Ta’liim yangmerupakan karya
monumentalnya. Ia menguasai beberapa bahasa di sampaingbahasa Arab, seperti
bahasa Inggris, Ibrani, dan Suryani. Hanya saja sepanjangpenelitian yang
penulis lakukan terhadap karya-karya ’Athiyah al-Abrasyi, penulisbelum
menemukan riwayat kehidupannya secara lebih lengkap dan lebih terinci.
Mengomentari tentang
’Athyah Al-Abrasyi, Abu Zahrah mengatakan:
Ia telah menghabiskan
hampir seluruh umurnya untuk menuntut ilmu,
semenjak mempelajari
tentang ke-Islaman pada tingkat madrasah, sampai
ke Dar al-ulum di Mesir,
dan kemudian dilanjutkan ke Inggris untuk
mendalami ilmu jiwa dan
pendidikan. [diganti kata ketika] ia kembali ke Mesir
tetap sebagai muslim yang
baik, tidak mudah terpengaruh oleh budaya asing,
tidak rusak imannya[diganti kata seperti]yang dialami oleh sebagian
ilmuwan yang
belajar ke luar negeri.[5]
Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam
Perspektif Mahmud Yunus dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi 193
Menurunya keberhasilan pendidikan Islam dari awal sampai masa
kejayaannyadapat dibuktikan dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan besar.[6] Menurut ’Athiyahketika itu
tidak ada [dikotomi]di antara ilmu, sehingga dikatakan bahwa kegiatanberfikir dan
berdzikir senantiasa berjalan seiring. Para ilmuwan melakukanobservasi,
menggali potensi alam kreasi Tuhan untuk mempertebal keyakinan terhadap sang
Maha Pencipta, sehingga negeri Mesir ketika itu dikenal sebagaipusat ilmu
pengetahuan. Namun ketika dunia Islam mengalami kemunduran,
terlebih ketika negeri itu
secara berturut-turut dijajah oleh Perancis dan Inggrismaka semua bidang
pemikiran, dan khususnya dunia pendidikan di negeri ini jugamengalami hal yang
sama. Kenyataan inilah yang telah membangkitkan ’Athiyahuntuk menggali kembali
nilai nilai dan unsur-unsur pembaruan yang terpendamdalam hazanah perkembangan
pendidikan Islam di masa kejayaannya. Ia mulaimencoba mencari titik persamaan
dan perbedaan antara dasar-dasar pendidikanIslam dan pendidikan modern untuk
mendapatkan pola-pola pendidikan baru
yang dapat menjawab
tantangan zaman namun tetap berpijak dan berlandaskankepada ajaran dasar Islam.
Pengertian dan Komponen Pendidikan Islam
Pengertian di atas mengandung makna ide, pandangan, atau dapat
jugadiartikan sebagai konsepsi, opini atau meaning.[7] Sementara konsep
memilikiketerkaitan erat dengan teori, sehingga terdapat saling keterkaitan
antara pengertiandan teori. Hal itu sebagaimana digambarkan dalam rumusan
Karlinger yangmengatakan bahwa:
A
Theory is a set of interrelated constructs (concepts), difinitions, and
propositions
that
present a systematic view of phenomena by specifying relation among
variables
with the porpuse of explaining the phenomena.[8]
Rumusan di atas menunjukkan
bahwa suatu teori merupakan [seperangkat]konsep, definisi dan
proposisi yang saling berhubungan dan menggambarkan suatu pandangan yang sistematis
dari gejala-gejala dengan menentukan satu persatu hubungan variabel,[diganti bertujuan untuk]menerangkan gejala[dihapus satu] tersebut.
194 Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam Perspektif Mahmud Yunus
dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi
Sementara itu yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah segala daya
dan upaya yang dilakukan oleh pendidik muslim terhadap perkembangan ruhaniyah
dan jasmaniyah peserta didik pada situasi tertentu untuk meningkatkan keimanan,
ketaqwaan, dan akhlak mulia melalui ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah
untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat.
Berangkat dari pengertian pendidikan, seorang pakar pendidikan
dari Perancis Jean Jaques rosseau sebagaimana dikutip Mahmud Yunus dalam
bukunya At-Tarbiyatu wa at-Ta’liim mengatakan bahwa pendidikan
itu memberikan atau menambahkan sesuatu kepada kita tentang sesuatu yang kita
belum memilikinya pada masa kecil tetapi memerlukannya pada masa yang akan
datang setelah dewasa.[9] Sementara itu Plato
memandang bahwa pendidikan itu mempersiapkan seluruh kemampuan akal[atau]jiwa dan raga untuk menuju
kepada kesempurnaan dan kebaikan.[10]Sedangkan menurut Islam
pendidikan itu merupakan sebuah upaya yang dilakukan seorang pendidik untuk mengembangkan
seluruh potensi yang ada pada anak didik baik yang bersifat fisik jasmaniyah ataupun psikis ruhaniyahbathiniyah
untuk
membentuk ”insan kamil” yang secara garis besar harus mengacu kepada
keseimbangan antara keduanya, guna mewujudkan tujuan pokoknya yaitu kesejahteraan
lahir batin, dunia dan akhirat. Oleh karena itu[tanda koma(,)]melalui firman- Nya dalam
Q.S. al-Qashash, 28:77 Allah telah mengisyaratkan perlunya ada keseimbangan
antara kebutuhan keduanya.
Ayat tersebut menegaskan kepada kita bahwa karunia Allah yang
dicari[atau]diupayakan dan diperoleh manusia di dunia seharusnya sebagiannya
diperuntukkan guna mengupayakan kesejahteraan di kampung akhirat sehingga
keduanya akan dapat diperoleh dan dinikmati secara seimbang.
Sejalan dengan ayat tersebut di atas maka Seminar Pendidikan Islam
sedunia di Islamabad tahun 1980 telah merekomendasikan mengenai pendidikan
Islam sebagai berikut:
Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam
Perspektif Mahmud Yunus dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi 195
Education
is should aim at the balanced growth of the total personality of Man.
Education should , therefore, cater for the growth of man in all
aspect, spiritual,training of man’s spirit,intellect, the rational self,
feeling and bodily senses. Education should therefore cater for the growth of
Man in all its aspect: Spiritual, intellectual, imaginative,phisical,
scientific, linguistic, both individually, and collectively and
motivate all these aspects to wards goodness and the attainment ofperfection.He
ultimate aim of Muslim education lies in the realization of complete
subsmission to Allah on the level ofindividual, the community and humanity at
large.[11]
Kata kunci dari rekomendasi di atas menurut hemat penulis adalah ‘balance’ (keseimbangan), sehingga usaha pendidikan akan
dikatakan berhasil dengan baikketika berbagai unsur tersebut di atas dapat
dikembangkan seara berkeseimbangan,yang dari sana akan lahir produk-produk
pendidikan yang handal dan siap pakai.
Dalam kaitannya dengan komponen-komponen pendidikan Islam yang meliputi:
Tujuan, metode, materi, peranan guru, kedudukan peserta didik, serta pengaruh
lingkungan di dalamnya, di bawah ini secara garis besar akan dijelaskansatu
persatu tentang:
Tujuan Pendidikan Islam
Berangkat dari pandapat para pakar pendidikan tentang tujuan
pendidikan Islam secara esensial dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan
sesuai dengan tujuan penciptaan manusia di dunia ini adalah untuk beribadah,
karena itu tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan Islam itu adalah manusia
yang berkualitas baik menurut al-Qur’an, yakni manusia beriman, berilmu,
beramal dan bahagia.
Dalam [kata mana dihapus]hal itu [kata akan dihapus]dapat diwujudkan melalui
upaya pengembangan dan pemeliharaan fitrah peserta didik untuk taat kepada
allah, mempersiapkannya agar memiliki kepribadian muslim, membekali dengan
berbagai macam ilmu pengetahuan dan ketrampilan, untuk mencapai kehidupan yang
sempurna (seimbang antara kehidupan lahiriyah dan batiniyah).
196Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam
Perspektif Mahmud Yunus dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi
Metode Pendidikan Islam
Terdapat beberapa metode yang digunakan oleh pendidikan Islam. Diantaranya
dapat disebutkan pendapat Muhammad Qutub yang mengatakan bahwa beberapa metode
dapat ditempuh dalam melaksanakan pendidikan Islam seperti: Keteladanan,
nasehat, cerita, memuji keberhasilan peserta didik, memberi reward[atau]hadiah kepada peserta didik
yang berprestasi, serta memberikan sangsi[atau]hukuman terhadap peserta
didik yang melakukan pelanggaran, melatih kebiasaan baik serta menyalurkan
bakat yang dimiliki setiap peserta didik.[12] Dalam hal ini penulis melihat
bahwa menciptakan kondisi dan suasana lingkungan yang mendukungsuburnya
nilai-nilai yang ditanamkan kepada peserta didik, baik di rumah, di sekolah,
maupun di dalam lingkungan tempat tinggalnya merupakan persoalan yang tidak
dapat diabaikan dalam pelaksanaan proses pendidikan Islam. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa secara umum metode pendidikan Islam merupakan segala
cara yang dilakukan pendidik dalam memberikan petunjuk, bimbingan, nasehat,
pelajaran dalam berbagai bentuknya dengan tulus dan mengutamakan unsur
keteladanan, penuh kasih sayang, dan sesuai denganpetunjuk al-Qur’an dan sunnah
Rasul.
Materi Pendidikan Islam
Mengutip pendapat Ibnu Taimiyah bahwa materi pendidikan Islam
adalah seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat yang menjadi dasar bagi
kemajuan dan kejayaan hidup manusia. Sementara itu menurut Ibnu Sina materi
pendidikan Islam itu meliputi[titik dua (:)]Pendidikan agama,
pendidikan akhlak, pendidikan akal, pendidikan ketrampilan serta pendidikan
sosial. [13]
Dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan maka Al-Ghazali dan Ibnu Khaldun
telah membagi ilmu menjadi dua macam, yaitu: Pertama ilmu yang diturunkan Allah
secara lagsung melalui wahyu, dan Kedua ilmu yang mesti diperoleh manusia tidak
secara langsung dari Allah akan tetapi harus melalui penalaran.
Lebih lanjut Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa ilmu yang secara
langsung diberikan Allah kepada manusia melalui wahyu kepada para Nabi-Nya itu
diantaranya: Ilmu al-Qur’an, (pembacaan dan penafsiranya), ilmu hadits
(perkataan,perbuatan, serta sikap Nabi), ilmu fiqh,
Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam
Perspektif Mahmud Yunus dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi197
ilmu tauhid, ilmu tasawuf,
dan lain sebagainya.[14]Sementara lmu-ilmu seperti
lgika, ilmu alam, ilmu kedokteran, ilmu pertanian, ilmu kimia, serta ilmu
metafisika, masuk ke dalam klasifikasi ilmu-ilmu yang tidak secara langsung
dari Tuhan, akan tetapi merupakan hazanah alam.[15]
Peranan Guru dalam Pendidikan Islam
Guru merupakan komponen penting yang paling menentukan dalam
proses pendidikan. Karena itu ia dituntut untuk memiliki persiapan-persiapan,
baik darisisi keilmuan maupun mental. Sajjad Husain dan Ali Ashraf melihat
bahwa seorang guru yang hanya memiliki ilmu saja belum[kata-lah dihapus]memadahi untuk dikatakan
sebagai pendidik yang baik, namun dia juga dituntut untuk memiliki keimanan
yang benar, berakhlak mulia, serta bertanggungjawab sebagai pengemban amanah
Allah.[16]
Hal demikian sangat diperlukan dalam proses pendidikan Islam
karena pendidikan Islam bukan sekedar aktifitas [diganti kata memberi] ilmu pengetahuan dan
informasi kepada peserta didik, akan tetepai lebih dari itu pendidikan juga
dimaksudkan sebagai upaya pembentukan karakter peserta didik. Karena itu
sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa guru merupakan figur sentral
dalam pendidikan Islam, karena itu untuk tercapainya suatu tujuan pendidikan
seorang guru harus memiliki fisik, mental, akal, serta kepribadian yang sehat,
karena di hadapan peserta didiknya guru adalah figur teladan yang seharusnya
setiap gerak-gerik dan tingkah lakunya dapat dicontoh dan diteladani oleh
peserta didiknya.
Namun demikian harus diakui bahwa sampai hari ini proses
pendidikan baik utamanya pendidikan formal, baik pendidikan Islam maupun yang
bukan, lebih sebagai tranfer of
knowladge dengan untuk tidak mengatakan ’tidak’, kurang mempedulikan
masalah-masalah yang terkait dengan pendidikan moral kepribadian peserta didik,
yang sesungguhnya itu menempati posisi yang tidak kalah pentingnya dengan ilmu
pengetahuan sendiri. Hal itu bisa dilihat dengan banyaknya contoh di lapangan
betapa merajalelanya manusia yang pintar secara keilmuan akan tetapi bodoh
secara moral, mereka menjadi penjahat-penjahat kelas tinggi, menjadi pencuri-pencuri
berdasi, serta pejabat-pejabat yang korupsi.
198
Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam Perspektif Mahmud Yunus
dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi
Mereka itulah orang-orang terpelajar
yang tidak terdidik.
Kedudukan Peserta Didik dalam pendidikan Islam
Peserta didik sebagai objek dan [kata sekaligus dihapus]subjek pendidikan sangat memerlukan
perhatian dan kasih sayang dari para pendidik. Antara keduanya memiliki hak dan
kewajiban yang sama dalam menunjang kelancaran pelaksanaan proses pendidikan.
Karena proses pendidikan akan berjalan sesuai harapan jika masing-masing
pendidik dan peserta didik memahami dan melaksanakan hak dan kewajibannya. Jika
pendidik berkewajiban memberikan bimbingan, nasehat, pengarahan, serta ilmu
pengetahuan sesuai dengan bidangnya [kata maka dihapus]adalah hak peserta didik
untuk menerima semua itu dari pendidik. [kata Dan dihapus]jika peserta didik berkewajiban
untuk memberikan penghormatan, penghargaan, serta perlakuan yang baik dan sopan
terhadap pendidik [kata maka dihapus]adalah hak seorang pendidikuntuk memperoleh itu
semua dari peserta didik. Karena itu Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu pernah mengatakan bahwa ada
persyaratan[dihapus satu]yang harus dipenuhi peserta didik untuk mendapatkan
ilmu yang bermafaat dari seorang pendidik.
Demikian katanya:[17]الا لن تنال العلم
الا بستة سأنبئك عن مجموعها ببيان :ذكاء وخرص واصطبار وبلغة وإرشاد أستاذ وطول
زمان.
Peringatan dari Ali bin Abi Thalib di atas memberikan gambaran
kepada kita bahwa untuk dapat mencapai cita-citanya pencari ilmu harus [memenuhi]enam persyaratan yaitucerdas,
penuh harap (optimisme), [sabar], berbekal, mengikuti petunjuk
guru, dan [memiliki]waktu yang cukup.
Merujuk kepada kata-kata Ali tersebut di atas barangkali kita
boleh mengatakan bahwa peserta didik adalah memang manusia yang wajib
dimanusiakan dalam proses pendidikan, namun [kata demikian di dihapus]ketika peserta didik tidak
mentaati petunjuk dan perintah guru yang merupakan bagian dari persyaratan
diperolehnya ilmu, maka ilmu yang diperolehnya[kata-pun dihapus] akan menjadi tidak sesuai
dengan yang diharapkan.
Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam
Perspektif Mahmud Yunus dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi 199
Pengaruh Lingkungan dalam Pendidikan Islam
Lingkungan dimana anak[atau]peserta didik tinggal
merupakan salah satu komponen pendidikan yang secara khusus perlu mendapatkan
perhatian, karena peserta didik sebagai zon politicon (makhluk sosial) tidak
mungkin memisahkan diri dari lingkungannya untuk hidup menyendiri tanpa saling
pengaruh mempengaruhi, sementara sebagai anak[atau]orang yang lebih muda,peserta
didik tentunya lebih banyak terpengaruh daripada mempengaruhi , baik oleh
lingkungan keluarga, sekolah, teman bermain, maupun masyarakat dimana dia hidup
dan beraktifitas, sehingga orang bijak bilang bahwa الإنسان مدني بالطبع: bahwa
manusia itu terbudayakan oleh lingkungannya sebagai hasil interaksi dengannya.
Oleh karena[itu dan tanda (,)]peserta didik disamping
mendapatkan pendidikan dari sekolahnya mereka juga baik secara langsung maupun
tidak langsung memperoleh pendidikan dari keluarga dan lingkungan tempat
tinggalnya maka banyak pihak harus turut bertanggungjawab dalam turut menciptakan
kondisi lingkungan yang kondusif untuk terealisasinya cita-cita pendidikan
Islam, yaitu manusia ’utuh’ dalam pengertian yang seluas-luasnya.
Pengertian dan Komponen Pendidikan Islam dalam Pandangan
Mahmud Yunus dan ’Athiyah al-Abrasyi
Pandangan Mahmud Yunus
Dari hasil penelitian penulis terhadap karya-karya Mahmud Yunus tentang
pendidikan Islam dapat disimpulkan bahwa menurutnya pendidikan Islam adalah suatu
pendidikan yang dilakukan masyarakat Islam yang berkaitan dengan pelajaran agama
Islam dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pengertian ini barangkali terlihat
terlalu sederhana jika dikembalikan kepada begitu kompleksnya
persoalanpersoalan yang terkait dengan pendidikan itu sendiri.
Namun demikian hal itu dapat dipahami karena situasi dan kondisi
yang sangat mendesak yang dihadapi Mahmud Yunus ketika itu adalah memberikan pelajaran
agama Islam di sekolah-sekolah yang ketika itu masih berjalan secara tradisional
dan sangat sederhana. Melihat kenyataan itu Mahmud Yunus yang pernah mengenyam
pendidikan ke luar Negeri terpanggil untuk memperbaiki dan meningkatkan metode
pembelajaran agama tersebut baik di sekolah, madrasah maupun pesantren dari
beberapa sisi di antaranya:
200
Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam Perspektif Mahmud Yunus
dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi
Tujuan Pendidian Islam
Menurt Mahmud Yunus ada dua tujuan pokok dari pendidikan Islam yaitu:
Pertama, untuk mencerdaskan peserta didik sebagai perseorangan, dan Kedua untuk
memberikan kecakapan[atau]ketrampilan dalam melakukan pekerjaan.
[18][Walau ditambahkata-pun dan demikian
dihapus]ia menambahkan bahwa penanaman akhlak mulia dalam diri peserta
didik termasuk bagian penting dari tujuan pendidikan Islam. Dari beberapa metode
yang lazim dipergunakan dalam pendidikan Islam menurutnya metode keteladananlah
yang paling handal untuk diterapkan dalam proses pendidikan Islam, karena
betapapun guru menguasai materi ajar, dapat menyampaikannya secara baik runtut
dan sistematis, sarana dan prasarana pendidikan memadahi, akan tetapi jika mental
serta akhlak guru tidak layak untuk diteladani, atau dengan kata lain guru tidak
memberikan teladan yang baik kepada peserta didik maka dapat dikatakan bahwa
pembentukan kepribadian peserta didik yang menjadi bagian penting dari tujuan
pendidikan sulit untuk mencapai sasaran.
Metode pendidikan Agama
Dalam kaitannya dengan metode pendidikan sebagai salah satu dari komponen
pendidikan Islam, Mahmud Yunus tidak menggunakan istilah pendidikan Islam
sebagaimana yang digunakan ’Athiyah akan tetapi dia menggunakan istilah metode
pendidikan Agama, mengapa istilah ’agama’ yang dia gunakan, hal itu karena
menurutnya metode pendidikan agama adalah suatu cara bagaimana guru[atau]pendidik mengajarkan ilmu
agama kepada peserta didiknya,sehinga ia menulis metode khusus bagaimana
mengajarkan agama kepada pesertadidik dari semenjak kanak-kanak sampai ke
perguruan tinggi khususnya perguruantinggi Islam. Walaupun metode yang diterapkan
Mahmud Yunus masih relatif lebih tradisional daripada metode pendidikan Islam
yang diusung oleh ’Athiyah. Karena berbeda denganYunus yang menggunakan istilah
metode pendidikan agama, dengan maksud menunjukkan cara-cara pembelajaran agama
”Islam”, maka ’Athiyah secara tegas mengatakan bahwa dalam beberapa prinsip
dasar, pendidikan Islam telah menunjukkan kemodernannya dengan memberikan
kebebasan kepada peserta didik, memperhatikan bakat, kecenderungan, fitrah,
kemampuan, serta keharusan berkomunikasi dengan kasih sayang kepada pesrta
didik.
Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam
Perspektif Mahmud Yunus dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi 201
Materi Pendidikan Islam
Sebagai seorang pembaru yang gigih berupaya untuk memperbaiki dan meningkatkan
pelaksanaan proses pendidikan Islam, Mahmud Yunus berpendapat bahwa materi
pendidikan Islam sudah seharusnya meliputi berbagai macam ilmu pengetahuan baik
yang bersifat keagamaan maupun yang bersifat umum. Oleh karenanya ia tidak
sependapat dengan pemahaman yang membuat dikhotomi antara pengetahuan agama dan
pengetahuan umum, karena baginya agamawan yang baik adalah yang sekaligus
ilmuwan, dan sebaliknya ilmuwan yang baik adalah yang agamis. Karena itu
menurutnya tidak ada alasan untuk memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum,
tetapi keduanya justru harus saling melengkapi.
Peranan Guru dalam Pendidikan Islam
Guru merupakan pembentuk kepribadian kedua setelah orang tuanya di
dalam keluarga peserta didik, karena itu menurut Mahmud Yunus guru beserta segala
perilaku dan gerak-geriknya memiliki [pengaruh]yang sangat kuat terhadap kehidupan
dan kepribadian anak didik di lingkungan pendidikan dimana di dalamnya pesera
didik mendapatkan pendidikan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa untuk memperoleh
hasil yang maksimal dalam upaya pembentukan kepribadian peserta didik, ada
beberapa sifat keutamaan yang harus dimiliki seorang guru[atau]pendidik, diantaranya: rasa
kasih sayang, perhatian, kejujuran, keadilan, ketulusan, percaya diri, sehat
jasmani rohani, memiliki kemampuan dalam bidangnya, serta
senantiasa mengikuti
perkembangan peserta didik yang dihadapi. Mengapa hal itu sangat diperlukan
bagi seorang pendidik, karena disadari atau tidak secara lambat tapi pasti
bahwa gerak- gerik, tingkah laku, dan secara keseluruhan kepribadian seorang
guru akan turut mewarnai kepribadian peserta didik yang menjadi asuhannya.
Sementara anak didik sebagai objek dan[kata sekaligus dihapus]subjek pendidikan menurut
mahmud Yunus diibaratkan sebagai benih dari tumbuh-tumbuhanyang untuk dapat
tumbuh secara baik memerlukan tanah penyemaian yang baik pula, disamping tentu
saja perawatan dan pemeliharaan yang sungguh-sungguh dari para guru[atau]pendidik sebagai orang yang
paling bertanggungjawab terhadap pertumbuhan benih-benih yang berada dalam
perawatan dan pemeliharaannya,untuk menghasilkan pohon-pohon rindang yang dapat
dinikmati buahnya.
202
Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam
Perspektif Mahmud Yunus dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi
Pengaruh Lingkungan Terhadap Pendidikan Anak
Berbicara masalah lingkungan dimana di dalamnya anak mendapatkan pendidikan,
maka Mahmud Yunus telah merinci tempat[atau]lingkungan pendidikan bagi
anak menjadi empat kriteria yaitu: 1. Rumah[atau]tempat tinggal, 2. Sekolah,
3.tempat bermain, dan 4. Lingkungan pergaulan.[19] Lebih dari itu ia
menambahkan bahwa lingkungan bermain serta lingkungan dimana anak didik tinggal
sangat bisa jadi memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap pembentukan
karakter kepribadian anak didik, hal itu dikarenakan waktu yang dilalui anak di
lingkungan tempat tinggal serta lingkungan bermain lebih lama daripada waktu
yang diahabiskan di sekolah /lembaga pendidikan formal. Karena itu menurutnya
untuk menunjang keberhasilan pendidikan di sekolah sesuai yang[diharapkan], [kata tidak bisa tidak di
hapus]anak didik harus diupayakan untuk tinggal di lingkungan baik
keluarga maupun masyarakat yang baik, yang selaras[kata dan mengacu kepada
nilai-nilai yang selaras dihapus]dengan nilai-nilai pendidikan yang telah
diterimanya di sekolah.
Pandangan Muhammad ’Athiyah al-Abrasyi
Secara garis besar barangkali dapat dikatakan tidak ada perbedaan
yang esensial antara pandangan Yunus dengan Athiyah dalam melihat pengertian
dan komponen-komponen pendidikan Islam. Namun untuk lebih dapat melihatnya secara
rinci akan dikemukakan pandangan dan pendapat-pendapat ’Athiyah tentang:
Tujuan Pendidikan Islam
Menurut ’Athiyah sasaran pokok yang menjadi tujuan pendidikan
Islam itu dapat disarikan
dalam lima asas pokok yaitu:
1. Pendidikan akhlak,
2. Mengutamkakan keseimbangan
antara kepentingan dunia dan akhirat,
3. Mengutamakan asas-asas
manfaat,
4. Mengutamakan ketulusan[atau]keikhlasan,
5. Mengutamakan pendidikan
ketrampilan untuk membekali peserta didikmencari rizki.[20]
Namun diantara semua tujuan yang utama itu dia mengatakanbahwa
pendidikan akhlak merupakan faktor paling utama untuk pembentukan kepribadian
muslim, karena betapa banyak
Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam
Perspektif Mahmud Yunus dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi 203
manusia yang pintar di
bidang ilmu akan tetapi rusak akhlaknya telah membawa bencana bagi kehidupan
manusia.
Sementara itu di dalam kitabnya Ruh at-Tarbiyah wa at-Ta’liim
secara garis besar dia juga menyebutkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah
mempersiapkan anak didik untuk mencintai tanah air, sehat jasmani, rohani, akal
fikiran serta perasaanya, lembut tutur katanya, trampil bekerja dan
bermasyarakat.[21]
Metode Pendidikan Islam
Sejalan dengan pendapat Al-Ghazali, Ibnu Sina dan juga Ibnu
Khaldun, ’Athiyah al-Abrasyi telah menetapkan kaidah-kaidah dasar dalam
pendidikan Islam sebagai berikut:
a. Tidak memberikan batasan
usia kapan anak harus mulai belajar;
b. Menjamin kebebasan peserta didik untuk memilih
dan menentukan disiplin
ilmu yang akan ditekuni
sesuai dengan bakat dan kecenderungannya;
c. Perlunya diadakan perbedaaan metode mengajar
bagi anak-anak dan orang dewasa;
d. Tidakdimungkinkannya seorang pendidik
mengajarkan dua disiplin ilmu yang berbedadalam waktu yang sama;
e. Adanya tuntutan bagi para pendidik untuk
senantiasamengikuti perkembangan peserta didiknya baik secara fisik, psikis,
motorik maupunkognitifnya.
Dengan mempertimbangkan beberapa kaidah dasar tersebut di atas
maka ’Athiyah kemudian [menyimpulkan]bahwa bagi setiap materi
pelajaran yang berbeda dapat diterapkan mentode yang berbeda pula yang dianggap
lebih sesuai dan lebih layak, dengan mempertimbangkan kondisi peserta didik
sebagaimana tersebut diatas. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa untuk pendidikan
tingkat anak-anak sebaiknya menggunakan metode induksi, sedangkan untuk yang
setingkat lebih tinggi dengan metode deduksi.
Materi Pendidikan Islam
Karya-karya Al-Ghazali, Ibnu Khaldun dan Ibnu Sina telah banyak
mewarnai pemikiran ’Athiyah tentang pendidikan. Sementara itu seperti diketahui
bahwa ketiganaya merupakan ilmuwan muslim yang juga menguasai ilmu-ilmu
filsafat, kedokteran serta ilmu
204Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam Perspektif Mahmud Yunus
dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi
ketatanegaraan di samping ilmu agama. Dengan demikian ’Atiyah
beranggapan bahwa materi pendidikan Islam tidak terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan
saja akan tetapi meliputi semua ilmu yang dapat memberikan manfaatbagi
kehidupan umat manusia.
Adapun terhadap ilmu pengetahuan non syari’ah ia telah
mengklasifikasikannya
menjadi tiga kelompok
yaitu:
a. Ilmu yang diperoleh dengan
indera dan akal, seperti: fisika, biologi, kimia, matematika, dan lain
sebagainya;
b. Ilmu yang diperolehdengan
keahlian dan ketrampilan, seperti: malukis, menggambar, memahat, danlain
sebagainya;
c. Ilmu yang bersumber dari
intuisis (perasaan), seperti: syair, puisi,seni suara, musik dan lain
sebagainya.
Peranan guru, Kedudukan peserta didik, serta pengaruh lingkungan
bagi
pendidikan anak.
’Athiyah melihat bahwa peran guru sebagai motifator dan
dinamisator di dalam proses pembelajaran cukup dominan di dalam pendidikan
Islam. Hal itu karena menurutnya peserta didik yang secara simultan sebagai
objek didik dan sekaligus subjek didik, merupakan amanah bagi pendidik untuk
dikelola dan dibentuk sesuai dengan syari’at agama yang telah diterapkan dalam
sistem pendidikan Islam.
Tentang pandangannya terhadap pengaruh lingkungan bagi peserta
didik,’Athiyah melihat bahwa dari antara beberapa faktor sebagaimana telah
disebut Mahmud Yunus, menurutnya faktor lingkungan
keluarga paling penting untuk mendapatkan perioritas perhatian, karena porsi
waktu yang paling banyak bagi anak didik adalah kesempatan bersama-sama keluarga
di rumah, sehingga secara otomatis lingkungan keluargalah yang paling dominan
memberikan warna dan model dalam pembentukan kepribadian anak.
Pengertian dan komponen-komponen pendidikan Islam sebagaimana dikemukakan
Mahmud Yunus dan ’Athiyah al-Abrasyi yang mencakup[“T”huruf kecil]ujuan, materi, metode dan
peran guru[atau]pendidik serta kedudukan peserta didik dalam Pendidikan Islam
menurut pengamatan penulis tidak terdapat perbedaan yang esensial antara
pandangan keduanya tentang pengertian dan komponen pendidikan Islam.Hanya saja
terdapat hal-hal yang menurut hemat penulis belum terakomodasikan dalam
pandangan keduanya, dimana pada era
Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam
Perspektif Mahmud Yunus dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi 205
teknologi canggih seperti
sekarang ini tidak bisa disangkal lagi bahwa peran media turut menentukan dalam
menunjang keberhasilan usaha pendidikan. Walaupun kembali lagi kepada guru[atau]pendidik[kata-lah dihapus]sesugguhnya yang memegang
posisi sentral dalam proses pendidikan. Oleh karena itu[tanda(,)]dengan komponen-komponen
pendidikan Islam yang ditawarkan keduanya sesungguhnya pendidikan Islam masih
menyimpan[diganti kata banyak]persoalan yang perlu segera mendapat perhatian
dan penanganan secara seriusdan simultan oleh seluruh komponen umat Islam dan
secara lebih khusus yang berkiprah di dunia pendidikan.
Harus diakui bahwa derasnya arus globalisasi yang ditandai dengan kecanggihan
teknologi informasi dan telekomunikasi yang telah dengan leluasa memberikan
kebebasan kepada peserta didik pada semua level dan tingkat usia untuk
menikmati tontonan apa saja lewat media cetak maupun elektronik seperti audio
visual yang seolah membuatnya tidak ada lagi sekat[atau]batas antar sudut-sudut dunia
itu, tanpa disadari oleh para orang tua sesungguhnya telah merusak moral sebagian
”besar” generasi muslim yang didambakan menjadi ’ibaadullah ashashaalihuun(hamba-hamba Allah yang
saleh-saleh) yang pada gilirannya berhak untuk menjadi pewaris bumi Allah.[22]Karena sesuai janji Allah
bahwa yang berhak mewarisi bumi ini hanyalah hamba-hamba-Nya yang saleh-saleh.
Peperangan fisik dengan senapan atau senjata laras panjang memang
sudah jarang terjadi di zaman ini, akan tetapi jangan lupa bahwa setiap saat
sesungguhnya telah terjadi perang urat saraf di tengah era global ini dimana
ideologi umat Islam sedang terjajah oleh ideologi kapitalisme dan materialisme
Barat yang menyebabkan timbulnya ketegangan, kecemasan dan kekhawatiran
disana-sini, orang tua sangat mengkhawatirkan pertumbuhan dan perkembangan
putra-putrinya, guru[atau]pendidik mencemaskan perkembanan mental anak didiknya, sebaliknya
anak-anak menuduh dan mencurigai para orang tua yang dianggapnya kurang
memberikan perhatian dan kasih sayang yang sangat diperlukannya, sehingga
kedamaian menjadi barang langka, kekerasan terjadi di mana-mana, kasih sayang
bertukar kehampaan, kegamangan dan kegoncangan jiwa banyak menimpa umat
manusia, semuanya itu
206
Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam Perspektif Mahmud Yunus
dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi
terjadi lantaran
keseimbangan antara kepentingan kesejahteraan lahir dan bathin,jasmani dan
ruhani, serta duniawi dan ukhrowi yang semuanya menjadi tujuanpendidikan Islam
belum bisa mereka nikmati,karena manusia mulai mengukurkesejahteraan hiduphanya
dengansemata-mata kelimpahan materi yang semu danbersifat duniawi. Karena itu
menjawab tantangan reorientasi pendidikan Islam masa depan perlu diadakannya
redesain sistem pendidikan Islam dengan memperhatikan secara proporsional tiga
ranah kognisi, afeksi, dan psiomotorik, atau dengan menyeimbangkan antara
perkembangan Intellectual Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Sipritual
Quotient (SQ), karena jika pendidikan hanya mengutamakan perkembangan
kecerdasan Intellectual (IQ) peserta didik, dengan tanpa disertai upaya
pengembangan kecerdasan emosinya maka yang terjadi adalah kepribadian yang
membahayakan, karena dengan emosi yang tidak cerdas seseorang akan mudah
melakukan tindak kriminal. Hal itu sebagaimana dikutipKarwadi dalam Jurnal Pendidikan Islam tentang hasil penelitian Daniel
Goleman yang menyatakan bahwa Intellectual Quotion (IQ) itu hanya menyumbang 20%
bagi kesuksesan seseorang dalam kehidupannya, sisanya 80 % akan ditentukan oleh
kecerdasan lainnya, yakni kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual[23]karena menurutnya orang
yang cerdas secara emosi dia akan mampu menata perasaan, pikiran dan
tindakan-tindakannya agar dapat sesuai dengan lingkungan dimana dia berada.[24]Oleh karena itu walaupun
antara IQ, EQ, da SQ, harus saling berkait kelindan untuk dapat sampai kepada sasaran
pendidikan Islam, namun jika mengacu kepada hasil penelitian Daniel tersebut di
atas maka pengembangan EQ dan SQ dari peserta didik justru harus lebih
mendapatkan perioritas daripada pengembangan IQ.
Untuk mengintegrasi dan interkoneksikan tiga ranah kognisi afeksi
dan psikomotorik, serta untuk dapat mengembangkan tiga kecerdasan IQ, EQ, dan
SQ tersebut secara simultan dan berkeseimbangan bagi peserta didik, maka
menurut hemat penulis perlu segera dikembangkannya sistem pendidikan Islam yang
berlangsung selama 24 jam secara terus-menerus, dimana peserta didik
diasramakan, sehingga segala sesuatu yang terkait dengan perkembangan
potensi-potensi yang dimiliki peserta didik baik dari sisi IQ, EQ, maupun SQ
Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam
Perspektif Mahmud Yunus dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi 207
[kata maupun dihapus] yang bersifat ketrampilan
fisik akan senantiasa dapat dipantau dan diawasi oleh pihak-pihak yang paling
bertanggungjawab di dalam pengelolaan proses pendidikan. Karena harus disadari
bahwa di era industrialsasi seperti sekarang ini tidak semua orang tua memilikikemampuan
dan kesempatan untuk memantau dan mengarahkan secara baik ke arah mana
potensi-potensi dasar anak berkembang dan dikembangkan, sepanjang di bawah
asuhannya di dalam keluarga, disamping karena memang sebagian para orang tua
mengandalkan pendidikan anak-anaknya hanya kepada lembaga pendidikan formal
seperti sekolah dan semisalnya.
Simpulan
Dari paparan
pendapat-pendapat Mahmud Yunus dan ’Athiyah al-Abrasyi tentang arti dan
komponen-komponen pendidikan Islam di atas, dapat penulis simpulkan hal-hal
sebagai berikut, pertama, Keduanya melihat bahwa
diantara lima komponen yang ditawarkan dalam pendidikan yaitu tujuan, materi,
metode, dan peranan guru[atau]pendidik serta kedudukan peserta didik, menurut
keduanya komponen pendidik memegang peranan paling penting, karena dialah aktor utama dalam mentransfer ilmu
pengetahuan dan nilai-nilai kepada peserta didik. Walaupun[kata tentu dengan dihapus]tanpa harus mengabaikan
unsur-unsur lain dari komponen pendidikan.
Kedua, Mahmud Yunus dan Muhammad
’Athiyah al-Abrasyi sependapat lingkungan tempat tinggal memiliki pengaruh yang
cukup signifikan di dalam[kata turut dihapus]membentuk kepribadian
peserta didik, oleh karena itu menjadi kewajibanorang tua untuk menciptakan
lingkungan yang menunjang pengembangan potensi-potensi anak secara baik. Ketiga, Ada persoalan yang belum terakomodasikan dalam
komponen pendidikan perspektif keduanya yang perlu segera dipikirkan dan ditindaklanjuti,
yaitu terkait dengan pemanfaatan media yang dapat membantu menunjang
pengembangan potensi perserta didik dalam proses pendidikan, tentunya dengan
tidak sampai mengarah kepada hal-hal yang merusak moral peserta didik. Keempat, Perlu segera dicari alternatif-alternatif
untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan potensi peserta
didik secara optimal, yaitu dengan memperbanyak lembaga-lembaga pendidikan
dengan model peserta didik diasramakan.
208Juwariyah
Perbandingan Pendidikan Islam Perspektif Mahmud Yunus
dan Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi
Rujukan
Abdul Aziz, Shalih dan ’Abdul
’Azizi ’Abdul Majid.At-Tarbiaytu
wa Turuqu at-Tadriis.Mesir: daar al-Ma’arif, t.t.
Abrasyi Al, Muhaammad
’Athiyah.Al-Ittijaahaa al-Hadiitsah fi
at-Tarbiyah. Kairo:Isa al-Baabi al-Hilyati, asy-Syirkah, 1943.
Abrasyi Al, Muhaammad
’Athiyah.At-Tarbiyah al-Islamiyah wa
Falsafatuha. Kairo:Isa al-Baabi al-Hilyati, 1976.
Abrasyi Al, Muhaammad
’Athiyah.Ruuh at-Tarbiyah wa
at-Ta’liim. al-Qahirah: Daar al-Ihyaa’ al-Kutub al-’Arabiyah, 1962.
al-Ardh, Syaikh. Al-Madkhal ila Falsafati Ibnu Sina. Beirut: Daar al-Anwar,
1976.
Fred and Karlinger.Fondation of Bihavioral Recearch.Holt, Renehart and Winston,1973.
Goleman, Daniel. Emotional
Intellegence dalam Karwadi.Jurnal Pendidikan Agama Islam, Jurusan PAI,Vol. III, No. 1, 2006.
Khaldun, Ibnu. Muqaddimah.Mesir: Mathba’ah Mushthafa Muhammad, 779 H.
Langgulung, Hasan. Peradaban dan Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka
al-Husna,1985.
Mastuhu. Pendidikan
Islam Indonesia dalam Perspektif Sosiologi.Jakarta:
UIN Syarif Hidayatullah, 1992, (Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Pendidkan
Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).
Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: Bulan Bintag,1982.
Nuhban, Salim bin Sa’ad
bin.Ta’liim al-Muta’allim. Matba’ah Daar al-Kutub
al-’Arabiyah, t.t.
Purwodarmento, Wojowasito. Kamus Lengkap Inggris Indonesia.Jakarta: Hasta,1974.
Qutub, Muhammad.Minhaj at-Tarbiyah al-Islamiyah. Mesir: Daar al-Qalam,t.t.
Sajjad, Husain dan Ali
Ashraf.Crisis in Muslim Education.Jeddah: King Abdul’Aziz,
1979.
Yunus, Mahmud.Metodik Khusus Pendidikan Agama. Jakarta: Hidakarya Agung,1983.
Yunus, Mahmud.Pokok Pokok Pendidikan dan Pengajaran. Jakarta: Hidakarya Agung,
1978.
Yunus, Mahmud. Sejarah pendidikan Islam. Jakarta: Hidakarya Agung,
1982.
Yunus, Mahmud. Tafsir al-Qur’an al-Kariim.Bandung: al-Ma’arif, 1987.
[1]Mastuhu, Pendidkan Islam Indonesia,
dalam Perspektif Sosiologi, Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 1992, hlm. 1
(Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam pada Fakultas Tarbiyah UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta).
[2]Muhammad ‘Atiyah Al-Abrasyi, At-Tarbiyah
Al-Islamiyah wa Falsafatuha, Mesir: Isa al-Babi, 1976, hlm. 3.
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
[3]Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: Bulan Bintang, 1982, hlm. 56 - 89.
[4]Hasan
Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam, Jakarta: Al-Husna, 1985, hlm. 98.
Jurnal
Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
[5]Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi,Ruh al-
Islam, Mesir: Dar al-Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyati, 1389 H./1969 M., hlm.
390.
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
[6]Muhammad ‘Athiyah Al-‘Abrasyi, At-Tarbiyah
al-Islamiyah wa Falsafatuha, Mesir: Isa al-Babi, t.t., hlm. 25-51.
[7]Wojowasito,
Poerwodarmento, Kamus Lengkap
Inggris Indonesia, Jakarta:
Hasta, 1974, hlm. 11.
[8]Fred N. Karlinger, Fondations
of Behavioral Recearch, Holt, Renehart and Winston, 1973, hlm. 28.
Jurnal
Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
[9]Jean Jaques Rousseau adalah seorang
pakar pendidikan Perancis yang lahir tahun 1712 dan wafat tahun 1778, dia punya
andil besar di dalam revolusi Perancis.
[10]Plato
adalah ilmuwan dari Yunani yang lahir pada tahun 429 S.M.
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
[11]Unde The Auspices of King abdul’Aziz
University and Quait ‘Azam University Sponsored By Ministry of Education,
Government of Pakistan, Recommendations Second World Conperence ofMuslim Education,
International Seminar On Islamic Concepts and Curricula,Islamabad, 15 – 20
March, 1980.
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
[12]Muhammad
Qutub, Minhaj at-Tarbiyah al-Islamiyah, Mesir: Dar al-Qalam, t.t., hlm.
19.
[13]Tafsir Syaikh al-Ardh,Al-Madkhal Ila
Falsafati Ibnu Sina, Beirut: Dar al-Anwar, 1976, hlm. 331.
[14]Ibnu Khaldun,
Muqaddimah, Mesir: Mathba’ah Musthafa Muhammad, 779 H, hlm. 557.
[15]Ibid, hlm. 558.
[16]Sajjad Husain dan Ali Ashraf, Crisis
in Muslim Education, Jeddah: King Abdul Aziz University,
1979, hlm. 1.
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
[17]Asysyaikh Salim bin Sa’ad bin Nuhban, Ta’liim
al-Muta’allim, Mathba’ah Dar al-Kutub al-Ihyaa’
al-‘Arabiyah, t.t. hlm. 15.
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
[18]Mahmud Yunus, Pokok-Pokok Pendidikan
dan Pengajaran, Jakarta: Hidakarya Agung,
1978, hlm.11.
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
[19]Mahmud Yunus, Ibid, hlm. 27.
[20]Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi, At-Tarbiyah
al-Islamiyah wa Falsafatuha, Mesir:
Isa al-Babi, Al-Hilyat asy-Syirkah, 1976, hlm. 22 - 25.
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
[21]‘Athiyah,
Ruuh at-Tarbiyah wa at-Ta’liim, Kairo: Daar al-Ihyaa’ al-Kutub
al-‘Arabiyah, 1962.
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
Jurnal
Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436
[23]Lihat
Karwadi, dalam Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol III, No.1, 2006, hlm.
82.
[24]Daniel Goleman, Emotional
Intellegence, dalam Karwadi, Jurnal Pendidikan Agama Islam, Jurusan PAI,
Vol. III, No. 1, hlm. 85.
Jurnal Pendidikan Islam :: Volume IV, Nomor 1, Juni 2015/1436